RUDI WALUJO PRASTIANTO

“Menuangkan isi kepala”

Wawancara: “Konsep Minimalis Anjungan Lepas-pantai Laut Dalam”

Posted by rudiwp on December 28, 2008

Beberapa waktu lalu, saya diwawancarai secara jarak jauh (via email) oleh seorang reporter majalah EKSPLO, Sdri. Prisca Cesillia Siagian, tentang konsep minimalis anjungan lepas-pantai laut dalam. Hal ini terkait dengan tulisan saya sebelumnya di portal BeritaIptek.com. Ringkasan hasil wawancara dapat dibaca di majalah EKSPLO edisi No.10 Th. I, 16-31 Desember 2008 dalam rubrik Tekno.

Bagi rekan sekalian yang belum sempat membacanya, ada alternatif untuk menikmatinya dalam blog ini, dalam edisi utuhnya. Berikut ini saya sampaikan naskah lengkap wawancara tsb. Reporter EKSPLO (PCS) dan saya (RWP). Semoga mengandung manfaat bagi yang berminat.

PCS: Apa yang melatarbelakangi inovasi konsep minimalis anjungan lepas pantai laut dalam?

RWP: Sebenarnya awalnya lebih dikarenakan dorongan faktor ekonomi, karena adanya keterbatasan modal untuk mengembangkan ladang minyak/gas akibat resesi ekonomi dunia pada masa itu. Sementara pada saat yang sama mulai ditemukan cadangan2 minyak/gas baru yang cukup besar dan menjanjikan secara ekonomis, misalnya yang terjadi di perairan teluk Meksiko (GoM), yang mau tidak mau harus segera ditambang. Jadi intinya karena adanya keterbatasan sumber daya financial.

Sementara, para pelaku bidang ini masih yakin untuk bisa terus mengeksplore SDM-nya agar mampu menelurkan teknologi2 baru sebagai solusinya meskipun dalam kondisi sumber daya financial yang terbatas tsb. Akhirnya muncullah sebuah konsep terobosan berupa teknologi platform dgn konsep minimalis ini. Dimana ternyata di kemudian hari, konsep minimalis ini terbukti cukup layak juga guna diaplikasikan untuk ladang-ladang yang tergolong marginal.

Kalo kita coba tilik dari sisi lain, menurut saya, sebenarnya konsep minimalis inilah yang justru memang paling pas dengan filosofi umum pembuatan sebuah struktur bangunan mekanik. Dari tinjauan disiplin ilmu struktur bangunan, sebuah bangunan (termasuk offshore platform ini) produk manusia yang paling ideal adalah yang bisa dibilang paling “sederhana” atau “simple”, tidak rumit, yang tentu saja harus masih memenuhi kriteria fungsionalnya. Simple dalam berbagai faktor dan sudut pandang, sehingga akhirnya tidak boros dan juga ramah terhadap segala sumber daya yang ada, termasuk kalo mungkin ramah lingkungan seperti isu santer yang sedang digembar-gemborkan akhir2 ini. Kelihatannya manis juga, “simple is beautiful” (-smile-).

PCS: Selain karena lebih murah, apakah ada manfaat lain yang dapat diperoleh dengan menggunakan konsep minimalis ini? Karena harga minyak, belakangan malah merosot, solusi alternatif apa yang bisa didapatkan dari mereka yang telah menerapkan konsep ini?

RWP: Saya kira cukup banyak. Bagi yang concern thd efektivitas penggunaan sumber daya, maka akan bilang,“kalo ada yang murah, kenapa pilih yang mahal?”. Mari kita lihat beberapa contoh. Misalnya tentang evolusi Mini-TLP yang dikembangkan salah satu perusahaan disain yang berpusat di Houston, Texas. Konsep dasar awalnya adalah sebagai platform minimalis, namun akhirnya layak diaplikasikan di perairan yang lebih dalam untuk ladang marginal. Tahun 1998 mini-TLP “Morpeth” diinstal di kedalaman hanya 518m, namun setahun kemudian, 1999, mini-TLP “Allegheny” berhasil diinstal dan dioperasikan di kedalaman 1.021m dengan kapasitas topside mencapai 3.000 ton.

Untuk melihat keuntungan lain yang didapat dari penerapan konsep platform minimalis ini, kita bisa melihat lanjutan evolusi dari mini-TLP di atas. Oleh perusahaan yang sama, SeaStar TLP untuk ladang Matterhorn di GoM yang diinstal tahun 2004 telah di-upgrade dengan dua fitur baru. Pertama, monocolumn hull-nya berhasil ditingkatkan dua kali lipat lebih besar dari generasi sebelumnya di atas sehingga kapasitas beban operasionalnya naik dua kali lipat dengan tanpa mengorbankan segi ekonomisnya, kemudahan fabrikasinya serta karakteristik gerak optimumnya. Juga waktu fabrikasi hanya 12 bulan, beberapa minggu lebih awal dari jadual dan instalasinya hanya butuh waktu 23 bulan. Kedua, TLP ini dengan gerakan terbatasnya sangat cocok sebagai platform dry-tree production. Dan juga SeaStar TLP Matterhorn ini telah menunjukkan kalaikan-lautnya (seaworthiness) meski dalam kondisi Hurricane Ivan.

Ambil contoh lain yang lebih mutahir, misalnya konsep Truss Spar. Sebagai salah satu konsep minimalis (konsep Spar generasi ke-2) yang cukup diakui saat ini, pada akhirnya platform dgn konsep ini mampu dan layak diaplikasikan untuk kedalaman dan kapasitas yang lebih besar dibanding konsep Classic Spar (generasi ke-1) pendahulunya atau terhadap konsep Mini-TLP di atas. Truss spar Horn Mountain milik BP berhasil dioperasikan tahun 2002 di peraian 1.653m yang jauh lebih dalam dari pada pendahulunya truss spar Gunnison yg hanya pada kedalaman 960m. Juga dengan kapasitas beban topside yang lebih besar sampai 8.000 ton dari pada misalnya spar Neptune dari generasi pertama yang berkapasitas beban topside 6.600 ton.

Sebenarnya, bagi pemilik ladang yang sudah memakai platform minimalis saya kira tidak ada solusi alternative spesifik yg mendesak pada saat harga minyak turun. Kalopun ada mungkin hanya solusi2 alternatif sekunder saja, atau itupun saya kira lebih pada solusi yang non-technical. Karena pada dasarnya mereka telah mendapatkan keuntungan dan manfaat pada saat mereka telah memutuskan memilih solusi minimalis ini, yaitu mereka hanya memerlukan modal awal yg lebih kecil jika dibandingkan kalo memilih solusi dengan platform konvensional, misalnya. Lalu selanjutnya, kalo mereka akhirnya berhasil mengoperasikan platformnya dgn baik (mis. tdk terjadi kecelakaan fatal atas platformnya saat operasi) dengan laju produksi seperti yang diinginkan, maka di sinilah malahan mungkin mereka dapat memainkan margin keuntungannya saat harga minyak turun, karena oplah penjualan produk makin bisa ditingkatkan.

PCS: Apa yang menjadi dasar dari pembangunan infrastruktur konsep minimalis anjungan lepas pantai laut dalam?

RWP: Sebetulnya, konsep minimalis ini malahan tidak memerlukan infrastruktur khusus yang canggih-canggih dan jarang ada. Karena memang filosofi pengembangannya adalah menggunakan logika yang sebaliknya, yaitu bagaimana membuat jenis struktur anjungan lepas pantai baru yang berbiaya lebih murah, dengan tanpa membutuhkan fasilitas infrastruktur yang “aneh-aneh” yang biasanya hanya dimiliki oleh galangan2 tertentu saja yang besar. Sehingga misalnya, pada saat fase pembangunan strukturnya, harus bisa dilakukan di galangan2 umum (atau relative kecil) yang relative tidak memiliki fasilitas2 khusus berkapasitas besar dan mahal seperti untuk pembangunan platform2 besar, atau bahkan di galangan kapal sekalipun.

PCS: Karakteristik ladang minyak seperti apa yang ideal menerapkan konsep ini?

RWP: Seperti sudah saya singgung di pertanyaan no.1, dalam perkembangannya struktur2 konsep minimalis ini aplikasinya bisa merambah ke ladang lepas-pantai marginal, bahkan katanya juga ada kemungkinan layak untuk recovery ladang2 yang sudah ditinggalkan sekalipun. Karena memang, salah satu alasan ditinggalkannya sebuah ladang minyak/gas adalah karena keterbatasan factor teknis/teknologi pada saat itu, termasuk teknologi struktur penopangnya, yang menyebabkan tidak ekonomis lagi kalo tetap dipertahankan dipakai. Namun pada akhirnya konsep ini seolah melekat pada aplikasi di ladang marginal.

Memang kalo kita coba lihat kondisi ladang marginal ini per definisinya, wajar saja kalo menyinggung platform minimalis langsung saja dialamatkan ke ladang marginal. Secara umum ladang marginal itu bisa diartikan sebagai sebuah ladang migas yang kalau akan dieksploitasi, secara itung-itungan bisnis dinilai kurang menghasilkan pendapatan bersih yang cukup. Untuk membuatnya berkembang lebih layak dalam kurun waktu tertentu, dituntut ada perubahan teknis/teknologi atau kondisi perekonomiannya yang berubah. Maka barulah ladang tsb menjadi komersial.

Atau kalo kita tarik dalam konteks Indonesia, berdasarkan definisi dari Seminar on Marginal Field Development (Bandung, 2001), maka ladang marginal diartikan sebagai ladang yang memiliki cadangan minyak atau gas yang tidak dapat dieksploitasi secara ekonomis kalau berdasar pada peraturan pemerintah Indonesia saat ini dan dengan teknologi yang ada.

Nah, dengan kondisi yang “pas-pasan” ini maka dicarilah solusi “paket-hemat” namun yang mandiri, sehingga ketemulah platform dengan konsep minimalis ini, yang menjadi salah satu elemen pendukung yang sangat penting, dalam pengembangan sebuah ladang migas lepas-pantai baru.

PCS: Bisa diceritakan dari awal pembangunan dan infrastruktur apa saja yang harus disediakan untuk konsep ini?

RWP: Pada dasarnya tetap sama seperti proses pada anjungan besar lainnya. Seperti yang sudah saya ceritakan di point no.3, maka dengan konsep anjungan minimalis ini, harus melahirkan proses-proses berikutnya seperti, proses konstruksi, instalasi dan operasinya menjadi lebih sederhana dan murah, bukan sebaliknya. Kalo tidak demikian, maka konsep minimalis ini malah dianggap gagal menjadi sebuah selusi hemat.

PCS: Bagaimana dengan kapasitas produksinya? Jika dibandingan dengan konsep anjungan yang konvensional, seberapa murah konsep minimalis?

RWP: Tentu lebih kecil. Misalnya untuk mini-TLP “Morpeth” dan “Allegheny”, keduanya bekerja di ladang kategori marginal dengan kapasitas produksi masing-masing 35.000 dan 25.000 barel minyak per hari. Sementara ladang yang dikategorikan besar, bisa mencapai kapasitas produksi 200.000 barel per hari bahkan lebih. Dan ini dilayani dengan platform besar dengan berat topsite hingga 40.000 ton.

Kita bisa menyimak data-data berikut yang memiliki arti penghematan atau lebih ekonomisnya solusi minimalis dengan tanpa mengurangi kemampuan fungsionalnya.

Misalnya pada kasus jenis Compliant Piled Tower (CPT) “Benguela Belize” yang beroperasi di lepas pantai perairan Angola, Afrika Barat dan mulai berproduksi tahun 2005. Platform ini menggunakan konsep disain minimalis, sehingga luasan dasar dan berat strukturnya masing-masing lebih kecil 1/12 dan 1/2 nya dibandingkan jenis anjungan terpancang konvensional untuk aplikasi di kedalaman yang sama. Contoh lain seperti Sevan Stabilized Platform (SSP) yang memiliki fitur utama bentuk struktur lambungnya (hull) yang silindris. Struktur berkonsep minimalis dengan ide mencomot kompartemen tengah badan kapal konvensional ini, diperkirakan hanya memerlukan sekitar 30% dari sistim perpipaan normal yang biasa dipakai pada FPSO konvensional. Harga satuan SSP unit pengeborannya sangat atraktif, misal dikatakan biaya pengiriman seluruhnya adalah US$ 430 juta. Sedangkan untuk jenis semisubmersible generasi ke-3 dan drillships bisa mencapai US$ 500-600 juta. Bisa dibayangkan berapa besar penghematan yang bisa dilakukan. Tentunya kondisi seperti ini sangatlah menarik sekaligus menggiurkan, bukan?

PCS: Apakah ada kelemahan dari konsep minimalis ini? Bagaimana mengatasinya?

RWP: Tentu saja ada. Seperti halnya produk teknologi lainnya, misalnya sepeda motor atau mobil, maka pada setiap seri yang dikeluarkan pasti ada faktor kelebihan dan kelemahannya. Sehingga lumrah kalau dalam produk yang baru pada tahun2 berikutnya banyak ditemui adanya perubahan2 di sana-sini sebagai penyempurnaan dari produk2 yang lama.

Demikian juga yang terjadi pada produk2 offshore platform, termasuk untuk konsep minimalis ini. Selain kelebihan2 yang ditawarkan, tentu setiap jenis solusi juga mengandung keterbatasan2nya sendiri. Banyak para ahli, termasuk produsennya sendiri, yang sudah me-review setiap keunggulan dan kelemahan dari berbagai macam solusi platform konsep minimalis yang sudah ditawarkan. Cara mengatasi kekurangan2 tsb tentu dengan dimunculkannya inovasi2 teknologi baru yang nantinya ditambahkan pada system platform tsb, baik untuk tujuan memperbaiki kekurangan yg ada maupun dalam upaya meningkatkan kapasitas aplikasinya.

Misalnya seperti apa yang dilakukan pada SeaStar TLP di atas. Karena SeaStar TLP yang ada masih belum bisa diaplikasikan di perairan lebih dalam lagi, ultra-deepwater (hingga 3.000m), maka untuk mengatasinya perlu ditambahkan suatu system peredam getaran berupa water-column oscillators pada hull-nya. System ini diperlukan untuk meminimalkan getaran resonansi akibat gelombang yang lebih besar, sehingga pada akhirnya bisa mengurangi gaya tarikan dan tegangan pada tendon-nya. Sehingga untuk tendonnya bisa dipakai pipa lebih tipis, artinya mengurangi berat material dan selanjutnya menurunkan cost-nya.

PCS: Apakah ada inovasi terbaru dari konsep minimalis ini? Jika ada, apa yang dikembangkan?

RWP: Tentu saja masih ada, karena dalam kondisi ekonomi yang bagaimanapun juga, margin keuntungan yang tetap/makin besar masih terus saja menarik, termasuk bagi perusahaan2 yang bergerak dalam bidang disain platform migas.

Salah satu contohnya yang dilakukan oleh disainer deep-draft semisubmersible “Independence Hub”. Platform ini sudah beroperasi di perairan GoM tepatnya di Mississipi Canyon block 920 yang memulai produksi pertamanya pada 2007 lalu. Platform berbiaya US$ 385 juta ini didisain sebagai floating production unit (FPU) untuk area ultra-deepwater hingga kedalaman 2.438m.

Concern utama dalam inovasi disainnya adalah upaya untuk mengakomodasi persyaratan gerak riser jenis steel catenary risers (SCR) yang ketat, yaitu berorientasi pada maksimalisasi umur lelah (fatique life) jangka panjang dari SCR berdiameter besar. Fitur lain sebagai keuntungan tambahan adalah struktur lambungnya (hull) didisain secara modular sehingga mudah difabrikasi di hampir setiap galangan fabrikasi umum dan kapasitas payload-nya mampu ditingkatkan dengan cukup mudah (fully scalable) hingga lebih dari 12.000 ton. Selain itu, hull dan fasilitas topsite-nya dirancang untuk dapat dirakit di galangan yang selanjutnya ditransportasikan ke lokasi instalasi dengan cara wet-towed sehingga meniadakan kebutuhan akan fasilitas angkat-berat di lepas pantai.

Dengan inovasi2 tsb di atas diharapkan dapat meminimumkan biaya dan resiko panjadualan proyek secara umum.

—  TAMAT  —

3 Responses to “Wawancara: “Konsep Minimalis Anjungan Lepas-pantai Laut Dalam””

  1. berita terbaru…

    […]Wawancara: “Konsep Minimalis Anjungan Lepas-pantai Laut Dalam” « RUDI WALUJO PRASTIANTO[…]…

  2. Keren

  3. Kang eta nu bagean kahiji I, pelet teh geuning nyaritakeun proses kalahiran manusa..hehehehhe Click http://getl.eu/?i=youme10080

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: