RUDI WALUJO PRASTIANTO

“Menuangkan isi kepala”

Sertifikasi Dosen ??

Posted by rudiwp on January 27, 2008

Assalamu’alaikum wr.wb.

Anda seorang dosen di Indonesia? Kalau ya, dan Anda kebetulan belum dengar berita tentang ini, ada baiknya Anda luangkan waktu barang beberapa menit saja untuk membaca tulisan yang ingin saya share di bawah ini.

Tapi barangkali berita ini sekaligus bakalan bisa membuat para dosen ada yang bergembira, dan ada pula yang akan cukup bersedih, minimal merasa gak enak hati … Yah…, memang kondisi dan keadaan tiap-tiap dosen kan juga berbeda, bukan ? meski sama-sama namanya ya dosen …Nah, kalau Anda termasuk yang mana, yah ? Namun saya berharap semoga akan ada banyak pihak yang bergembira dibuatnya, meski masih dalam taraf kegembiraan dalam angan-angan.

Lagipun, ini juga masih rencana, belum dilaksanakan, belum tahu bagaimana nanti ceritanya saat dipraktekkan di lapangan. Kalau kita sedikit cermati proses Sertifikasi Guru yang sudah dilaksanakan terlebih dulu itu, yah..ternyata banyak “rona-rona ceritera” di dalamnya, kan? Lalu, gimana nanti nasib Sertifikasi Dosen ini, mari kita tunggu saja sama-sama tanggal mainnya …..

OK, monggo dipun simak beritanya berikut, selamat menikmati …..

Oh ya, info terkait lainnya bisa Anda klik di sini:

Sertifikasi Dosen Segera Dimulai

(JawaPos-Online-Minggu, 30 Des 2007)

Dosen Bergelar S-1 Tidak Bisa Ikut
SURABAYA – Sertifikasi untuk para dosen dipastikan mulai tahun depan. Namun, sertifikasi dosen itu tidak sebanyak kuota sertifikasi guru. Bahkan, dosen yang berijazah S-1 tidak bisa mengikuti program peningkatan mutu tenaga pendidik tersebut.

Dalam Permendiknas No 42 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Dosen ditetapkan bahwa kualifikasi akademik dosen yang bisa mengikuti sertifikasi minimal S-2. Selain itu, mereka harus memiliki jabatan fungsional minimal asisten ahli dan masa kerja paling sedikit dua tahun.

“Dosen yang tidak memenuhi syarat tersebut tidak bisa mengikuti proses sertifikasi,” kata Rektor Unesa Prof Haris Supratno kemarin (29/12).

Ketentuan tersebut, agaknya, menimbulkan permasalahan tersendiri. Sebab, di beberapa perguruan tinggi, dosen yang bergelar S-1 cukup banyak. Di Unesa, misalnya, ada 295 dosen. Fakultas yang paling banyak memiliki dosen berijazah S-1 adalah fakultas bahasa dan seni (FBS) dan fakultas teknik, masing-masing berjumlah 61 orang.

Dosen yang bergelar magister (S-2) memang lebih banyak. Jumlahnya di kampus Unesa mencapai 495 orang. Dosen yang berkualifikasi doktor (S-3) 79 orang dan yang sudah bergelar guru besar 27 orang.

Melihat ketentuan kualifikasi tersebut, mau tidak mau perguruan tinggi harus segera mencari penyelesaian. Kalau tidak, hal itu akan menjadi kendala serius dalam program sertifikasi dosen. “Karena itu, kami akan mendorong semua dosen S-1 agar bisa S-2. Di Unesa, sebagian besar sedang menempuh pendidikan S-2,” ujar Haris.

Bagi dosen yang tidak mendapat beasiswa S-2 dari pemerintah, Unesa siap membayar SPP per semester mereka. Sebab, biasanya para dosen berkeberatan karena dananya cukup besar. Yakni, antara Rp 2 juta-Rp 4 juta. “Untuk biaya hidup, pembelian buku, dan penelitian dibayar sendiri,” tambahnya.

Haris mengimbau para dosen yang masih memiliki ijazah S-1 segera mengambil langkah cepat. Jika tidak, mereka tidak bisa tersertifikasi dengan cepat. Apalagi jumlah kuota tiap tahun sangat sedikit. Untuk gelombang pertama 2006 kali ini, Jatim mendapat jatah sekitar 425 dosen.

“Kuota Unesa hanya 21 dosen,” ujarnya. Demikian juga, perguruan tinggi lain rata-rata sedikit. Universitas Negeri Malang (UM) mendapat jatah 22 dosen, Unibraw 24 dosen, dan Unair sekitar 34 dosen.

Begitu perguruan tinggi penyelenggara ditetapkan dan asesor telah ditunjuk, proses sertifikasi dosen tersebut segera dilakukan. Berkas portofolio mereka akan dinilai para guru besar yang ditunjuk sebagai asesor. “Sekarang sedang dalam proses penunjukan,” katanya.

Sejalan dengan rencana sertifikasi dosen, kesejahteraan para guru besar berkualifikasi doktor direncanakan berlipat. Rencananya, per 1 Januari 2008, penghasilan tiap bulan mereka akan naik. Tiap bulan, para guru besar itu akan mendapat penghasilan Rp 9,2 juta.

Pendapatan sebesar itu berasal dari gaji pokok, tunjangan profesi ( 1 kali gaji pokok), ditambah tunjangan kehormatan profesor (dua kali gaji pokok). Jumlah pendapatan tersebut dengan asumsi, gaji seorang profesor yang berkualifikasi doktor sebesar Rp 2,3 juta per bulan.

Menurut Haris, sejauh ini para profesor hanya menerima uang satu kali gaji pokok plus tunjangan fungsional Rp 900 ribu. “Setelah mendapat tunjangan profesi dan tunjangan kehormatan, tunjangan fungsional tidak diberikan lagi,” imbuhnya.

Untuk mendapatkan tunjangan yang banyak itu, ada syarat utama yang harus dipenuhi para guru besar berkualifikasi doktor. Mereka terlebih dahulu harus mendapat sertifikat pendidik, layaknya para guru dan dosen yang ikut dalam program sertifikasi. Saat ini sertifikat bagi mereka juga sedang diproses. (may/hud)

7 Responses to “Sertifikasi Dosen ??”

  1. mahasiswa said

    Kira2 dosen yang bersertifikasi tersebut dapat menjadi dosen yang baik di mata mahasiswa gak ya? Emang sih mahasiswa juga diminta mengisi kuisener untuk menilai dosen tersebut, namun kan bukan cuma itu intrumennya ya :) Kayaknya dah banyak dosen yang lulus sertifikasi dan sudah menerima tunjangan sebelum pilpres kemaren :)

  2. muhammad satar said

    sayatermasuk yang sedih akademik hanya S1, tapi fungsional sudah Lektor, rasanya sia-sia perjuangan untuk fungsional yang diperoleh dengan menjalankan tri dharma perguruan tinggi, tapi karena kemampuan ekonomi tidak mampu mengambil S2,,kacian deh lo.. satar..

  3. RWP said

    Dear “Mahasiswa”,

    Kalo masalah dosen yang baik di mata mhs, kayaknya secara faktual tdk berkorelasi langsung dgn punya atau tdknya SerDos ini …
    Padahal memang secara teoritis, harusnya yg sdh punya ya …otomatis harusnya baik (bukan berarti yg blm punya tidak baik, bisa sebaliknya.
    Secara umum fenomenanya kayak orang punya SIM untuk berkendaraan. Apakah ada jaminan bahwa yg punya SIM kalo bawa kendaraan di jalan raya bisa berkendara secara baik??

    Dear Pak Satar,

    Saran saya, kalo msh ada kesempatan (at least umur dan waktu), kalo mau lanjut kuliah pascasarjana, tidak harus pakai uang sendiri pak, banyak sekali beasiswa yg ditawarkan untuk sekolah lanjut. Tentunya ada standart kualifikasi tertentu untuk bisa mendapatkannya. Saat ini DikTi lagi gencar2nya dgn dana program bantuan studi lanjut itu (soalnya anggarannya lagi banyak).
    Mohon maaf (bukan untuk menyombongkan diri, lho…sumprit..), biar gampang aja, contohnya saya, alhamdulillah untuk S2 dan S3 semua dapet dari beasiswa. Gak bondho blas, malah dapet untung, sisa2nya …
    Semoga pak Satar bisa mendapatkannya nanti …

    Regards,
    RWP

  4. gusiful said

    salam pak

    Thanks info-info nya, pak apa ada waktu memberi info atau almat webnya yang berhubungan dengan study lanjut bea siswa.
    trim

  5. lulu said

    allhamdulillah sy senang membaca berita ini,krn sayA DAH S2 dan dah punya jabatan fungsional,tp yg membuat sy khawatir dan berharap@cemas kapAN SY BS SERTIFIKASI?????, SMENTARA SEKARANG GAJI sy msh kalah jauh dengan guru yg py sertifikasi,sy berjuang sendiri utk bs S2 tdk ada yg menyumbang atau dukungan <semua biaya sy tanggung sendiri,nahhh gmn menyikapi nasib dosen seperti sy???makasih

  6. RWP said

    Dear Sdri Lulu,

    Wah, hebat kalo studi lanjut bisa dgn biaya sendiri :-). Akan sangat lebih baik kalo hal itu sangat disyukuri. Memang Allah itu Maha Adil, sehingga ada yang memang harus diberikan beasiswa untuk study lanjutnya karena memang dia tidak mampu kalo harus membiayai sendiri. Namun sebaliknya, karena sudah mampu ya…gak perlu beasiswa alias bayar sendiri. Semua itu tidak perlu dipersoalkan, yang perlu keduanya tetap mensyukuri, gicu …saya kira. Nanti Insya Allah, Dia akan menambah nikmatNya untuk kita …

    Kalo kapan bisa punya SIM (Sertifikat Ijin Mengajar ??), itu biasanya tergantung unit jurusan/fakultas dimana anda mengajar. maksudnya ada kandidasi tentang siapa2 yang bisa ngajukan SIM dulu untuk periode tertentu. karena hal ini terkait dengan adanya kuota jumlah orang yg bisa ngajuka SIM itu…(untuk tiap PT, fakultas atau jurusan tiap tahunnya) dan tentu urutan itu ada kriteria2 tertentu, misal pangkat golongan ruang dan fungsionalnya dsb …

    Demikian yg bisa saya sharing-kan …nuwun.

    regards,
    rwp.

  7. sakyo utomo said

    Pak,
    Kalo nasib dosen2 di PTS gimana apakah sama dengan dosen2 PTN, terutama masalah gaji nya setelah disertifikasi?

    Cheers

    Sakyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: