RUDI WALUJO PRASTIANTO

“Menuangkan isi kepala”

Menyoal Konsep Skripsi Mahasiswa

Posted by rudiwp on November 17, 2006

Oleh: Rudi Walujo Prastianto

Belum lama ini diintrodusir sebuah format baru pengganti skripsi bagi mahasiswa program sarjana (S1). Konsep dengan nama Participation Action Research (PAR) ini berinti penggabungan aktivitas penelitian ilmiah mahasiswa untuk tugas akhir atau skripsi dengan kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Berlatar belakang adanya fakta praktik perjokian skripsi, gagasan ini pun diharapkan melahirkan efisiensi biaya, mengikis kesan asingnya pihak kampus terhadap masyarakat serta demi mengukuhkan citra perguruan tinggi sebagai Research University.

Di sisi lain, ternyata konsep baru ini ditengarai tidak begitu saja cocok jika diterapkan di jurusan ilmu-ilmu teknik (engineering). Jurusan teknik memerlukan obyek penelitian yang cenderung pada kawasan industri yang sarat dengan teknologi. Kesalahan dalam pemilihan obyek ini, memungkinkan terjadinya kemandegan inovasi mahasiswa dan perkembangan teknologi (Jawa Pos, 11 April 2006).

Wacana di atas menjadi sangat penting karena pada akhirnya bisa terkait dengan konsekuensi biaya akibat dari sebuah metode baru yang belum teruji performansinya. Betulkah perubahan konsep itu menjadi suatu keharusan saat ini ? Apakah pendekatan yang ada saat ini sudah benar-benar tidak mampu mengatasi persoalan yang melatarbelakangi munculnya konsep PAR di atas ?

Suatu model pendekatan kreatif
Tidak dapat dipungkiri antara bidang ilmu teknik dan non-teknik (ekonomi, sosial, dll) terdapat perbedaan yang sifatnya alamiah akibat karakter spesifik masing-masing cabang ilmu. Perbedaan ini melahirkan metode serta praktek pembelajaran yang berbeda bagi para pembelajarnya.

Seorang mahasiswa bidang teknik, disamping dipersiapkan untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan analitis yang cukup, juga dididik untuk memiliki keterampilan (skill) teknis, minimal teknis dasar pada bidangnya. Dalam proses pembelajarannya, kemampuan ini hanya bisa terbentuk secara masif melalui interaksi yang cukup intensif dengan pihak yang terlibat langsung dengan teknologi.

Untuk itu salah satu karakter utama dari pendekatan yang akan disajikan di sini adalah suatu pendekatan yang berbasis pada kerja sama dengan pihak industri, pihak yang secara langsung bergumul dengan penerapan teknologi. Model pendekatan ini didasarkan pada pengalaman yang sudah dilakukan oleh beberapa laboratorium di jurusan Teknik Kelautan ITS Surabaya.

Skema ini berupa suatu modifikasi terhadap metode atau cara yang sudah ada yang berbasis pendekatan link and match seperti cara Kerja Praktek (disebut juga Praktek Kerja Lapangan) dan magang di suatu perusahaan pada saat mengerjakan tugas akhir. Pendekatan seperti ini sudah cukup baik, tetapi pada umumnya masih memerlukan penajaman pada sisi intensitas transfer of knowledge and skill -nya.

Upaya penajamannya dilakukan dengan cara melibatkan mahasiswa secara langsung dalam proyek/penelitian laboratorium sesungguhnya yang dilakukan dengan pihak industri. Mahasiswa masuk dalam team bersama dengan para dosen pembimbingnya. Beban dan tanggung jawab kerja dibagi secara proporsional, sesuai bidang peminatannya bagi mahasiswa dan sesuai keahliannya bagi para dosennya. Para mahasiswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan diskripsi tugasnya dan dalam kerangka waktu yang terjadual. Staff pihak industri secara berkala datang ke kampus untuk secara langsung bekerja bersama team. Bahkan tidak jarang team dari laboratorium (dosen dan mahasiswa) harus terjun ke lapangan untuk melakukan pengukuran langsung guna mendapatkan data.

Dari gambaran mekanisme kerja di atas, sejatinya banyak hal yang secara eksplisit maupun implisit merupakan suatu proses pematangan unsur-unsur kompetensi yang harus dimiliki oleh mahasiswa teknik, mulai dari aspek teoritis sampai aspek teknis-praktis. Bahkan proses penumbuhan faktor “non-teknis” seperti etos kerja keras dan kemampuan kerja kelompok sudah tertangani secara simultan. Ibarat ajang unjuk kebolehan teoritik-praktis sekaligus, dalam suasana “model kerja” nyaris nyata, yang sangat bermanfaat sebelum berlaga di arena kerja sebenarnya.

Pihak kampus dan mahasiswa akan selalu mendapatkan permasalahan penelitian yang up to date karena ide-ide mengalir secara dua arah, kampus-industri. Lebih jauh, kondisi ini secara akumulatif akan turut berperan dalam membangun “pohon penelitian/riset” sebuah laboratorium pusat penelitian untuk menjadi lebih fokus, terarah dan terencana. Dalam konteks Indonesia saat ini, hal ini menjadi sesuatu yang penting dan urgen.

Proses transfer ilmu dan ketrampilan terjadi sangat intensif antara dosen, mahasiswa dan staff ahli pihak industri. Dengan mekanisme kerja yang sifatnya bersamaan dalam ruang dan waktu otomatis akan menghilangkan jarak komunikasi antar anggota yang terlibat di dalamnya. Pada saat yang sama perkembangan kemampuan mahasiswa dalam bidangnya akan selalu termonitor secara berkala dan bertahap. Perlu digarisbawahi bahwa dengan pola ini pula, maka tidak ada alasan dan celah lagi bagi praktek penjiplakan, perjokian dan sejenisnya dalam pembuatan skripsi atau tugas akhir ini.

Pola ini jelas berhadapan dan bergelut langsung dengan masyarakat (industri) sehingga otomatis menepis anggapan kampus sebagai “menara gading” yang terasing dari masyarakatnya. Secara bersamaan, dapat juga diartikan sebagai peran perguruan tinggi terhadap masyarakat atau pengabdian kepada masyarakat (public service). Dengan ini pula perguruan tinggi layak disebut sebagai institusi/pusat penelitian karena kampus tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan antara dosen dan mahasiswa saja, tapi juga sebagai wadah bersemainya berbagai konsep dan ide kreatif sebelum dilontarkan ke tengah masyarakat.

Dari perspektif lain, pendekatan ini pada hakekatnya juga telah berhasil menawarkan suatu “win-win solution” bagi kedua belah pihak. Potret “lulusan siap pakai” bukanlah hanya menjadi hajat kampus atau pihak industri saja, tapi merupakan hajat bersama. Pihak industri berkepentingan untuk bisa secepatnya “memakai” para alumni dengan “cost” sekecil mungkin. Di pihak lain, kontribusi kalangan industri ini, serasa makin memperingan “beban” perguruan tinggi dalam proses “penggodogan” SDM. Jadi sangat diperlukan suatu pendekatan yang bernuansa sinergis, bebas dari rasa saling “memanfaatkan” satu sama lain.

Urgensi metode baru
Timbulnya praktek pencaloan skripsi misalnya, sesungguhnya akar permasalahannya tidaklah terletak pada kesalahan metodenya. Tapi lebih pada faktor pelaksanaan fungsi pembimbingan yang kurang konsisten. Seorang dosen pembimbing selayaknya mengetahui riwayat sebuah skripsi mahasiswanya, mulai dari penentuan topik hingga direkomendasikan kelayakannya untuk maju ke meja sidang tugas akhir. Pada saat yang sama dibarengi dengan penilaian tingkat pemahaman mahasiswa tentang permasalahan penelitiannya secara bertahap selama proses penyusunan skripsi tersebut. Kalau sudah demikian adanya, dari lubang yang mana plagiator dan semacamnya akan muncul?

Dengan demikian, yang terasa lebih mendesak sebenarnya bukan barunya metode. Kondisi sulit saat ini lebih menuntut kemampuan mengevaluasi dan menyempurnakan suatu bentuk/metode yang sudah ada agar menjadi lebih baik. Karena sangat mungkin sekali sebab-sebab kegagalan sebuah metode tidak terletak pada esensi metode itu sendiri, tapi hanya karena faktor sekundernya saja seperti kasus di atas.

Sehingga bukanlah solusi yang bijak dan “hemat” kalau serta-merta harus membuat hal yang baru, apalagi jika kurang menelaah lebih jauh parameter-parameter lain yang berpotensi mengurangi tingkat keberhasilannya. Karena betapapun cost untuk sesuatu yang baru pada galibnya adalah lebih mahal. (@rwp)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: