RUDI WALUJO PRASTIANTO

“Menuangkan isi kepala”

“Lulusan siap pakai” menantang Industri ?

Posted by rudiwp on November 17, 2006

Oleh : Rudi Walujo Prastianto

Suatu saat, saya cukup terpaku dengan istilah “lulusan siap pakai”, atau sebagai variannya, ada juga yang menyebut “sarjana siap pakai”. Secara umum, keduanya menunjuk pada makna yang sama. Melalui sebuah mailing list, tiba-tiba istilah yang cukup meyakinkan itu sedikit mengusik perhatian saya. Untuk itu melalui tulisan singkat ini, ijinkan saya untuk mencoba sedikit memaknainya dari suatu perspektif yang lain, barangkali ada manfaat yang bisa dipetik darinya.

Tentu saja Anda sering mendengar, membaca atau bahkan memakai istilah ini, bukan? Ya…, saya yakin itu, karena memang istilah ini bukan hal ataupun fenomena yang baru bagi kita. Namun rasanya hingga saat ini, minimal untuk saya pribadi, belum ada perasaan “plong” dengan arti maupun realitas yang terjadi. Apakah terminologi yang “nggegirisi” (maaf dalam bahasa Jawa) dan sekaligus menantang ini, merupakan suatu ungkapan cita-cita, atau sengaja diciptakan sebagai sebuah parodi? Atau semacam ekspektasi pihak yang satu terhadap pihak yang lain yang terlalu optimistik? Atau sesuatu yang harus dikampanyekan, karena nampak oleh kita adanya kesenjangan antara sumber daya/potensi yang ada dan proses serta produk yang dihasilkan? Apa hal ini memang benar-benar mungkin diwujudkan?

Adakah “lulusan siap pakai” ?
Tidak dapat dipungkiri, dan kita semua menginsyafi, bahwasanya dalam tataran praktis-industri, bekal “teknis” yang didapat para alumni dari “kawah condrodimuko” (kampus) dimana mereka menimba ilmu bukanlah menjadi andalan satu-satunya yang bisa untuk “survive” di lapangan. Artinya masih sangat banyak faktor-non teknis lainnya yang diperlukan. Mulai dari aspek detil praktis yang sangat beragam yang menjadi menu wajib yang biasa dijumpai di lapangan, sampai dengan prinsip-prinsip manajerial dasar, bahkan tentang “etika bisnis” yang paling sederhana sekalipun, semuanya merupakan hal-hal penting yang juga harus dikuasai, minimal harus diketahui. Pada umumnya faktor-faktor ini bukanlah sesuatu yang menjadi “menu formal” di ruang perkuliahan, harus dicari di tempat lain. Kita sepakat, bukan?

Tapi, tunggu dulu,……sebelum kita menyoal lebih dalam, ada baiknya kita meredefinisikan dulu apa sebenarnya “lulusan siap pakai” yang dimaksud di sini. Apakah istilah itu memiliki definisi tunggal yang sudah baku, sehingga pada saat kita mendengar atau memakainya sudah memiliki satu kesatuan persepsi yang sama? Atau dapat diartikan secara subyektif-interpretatif yang tergantung pada situasi dan kondisinya? Kalau memang kondisinya masih debatable seperti itu maka sudah selayaknya diperlukan langkah penyamaan persepsi, hingga didapatkan suatu kondisi definisi yang disepakati.

Saya akan mengawalinya. Paling tidak ada tiga sudut pandang dalam mendefinisikan istilah “lulusan siap pakai” itu. Pertama, dari sudut pandang pemaknaan yang “rigid”, “berat”, “serius”, “optimistis” dan “tidak main-main” sehingga sebenarnya justru menjadi sederhana dan gamblang, apa adanya. Sudah bisa menebak? Ya, yaitu dalam arti bahwa lulusan itu, dalam bahasa sederhananya, begitu saja setelah lulus dan bekerja, wujudnya sudah sangat hebat, bisa memahami, menguasai dan terampil dalam mengerjakan semua beban kerja dalam bidangnya hingga detil-detilnya, seperti yang diberikan oleh atasannya tanpa harus tanya kanan-kiri, tanpa harus di-training dulu selama tiga atau enam bulan, misalnya. Pokoknya sudah tahu semua, tinggal jalan semua beres.

Kedua, definisinya agak lentur, fleksibel dan moderat, yaitu dalam arti tidak terlalu over optimistic yaitu sebuah definisi yang adaptable yang bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang meliputinya. Menurut cara pandang kedua ini, istilah “lulusan siap pakai” sudah cukup puas jika didefinisikan sebagai kondisi dimana lulusan itu siap untuk diadaptasikan secara cepat dan singkat sesuai dengan tuntutan kerja yang akan dihadapinya. Misalnya, siap “tempur” setelah diberikan kursus singkat, di-training selama tiga atau enam bulan dan sebagainya. Mudah diajari, tidak mudah stress dan gak ngantukan di kantor…ha…ha….. Intinya kurang lebih bermakna “instant”, tidak lagi diperlukan “ongkos” yang besar untuk memakainya.

Sudut pandang ketiga, mengambil definisi yang berlawanan arti dengan “lulusan siap pakai”, yaitu “lulusan tidak siap pakai”. Apakah ada, kategori seperti ini, ya? Oh, maaf, maaf, kalau yang ini saya cuman bercanda. Tentu saja tidak ada definisi seperti ini.

Nah, dengan definisi-definisi di atas rasanya sekarang menjadi lebih mudah bagi kita untuk menjawab pertanyaan dalam sub-judul di atas. Sekarang tinggal kita sepakat dengan definisi yang mana serta menyadari betul akan konsekuensi-konsekuensi yang dibutuhkan dalam proses merealisasikannya.

Mari kita lanjutkan. Jadi, jika dilihat dari potensi, sistem dan praktek yang diterapkan saat ini di lingkup institusi pendidikan (misal, perguruan tinggi) kita secara umum, maka hampir pasti dapat saya katakan tidak akan pernah ada apa itu yang disebut sebagai “lulusan siap pakai” seperti definisi pertama di atas. Rasanya sangat berat, kalau tidak boleh dikatakan mustahil, bagi sebuah institusi pendidikan untuk bisa memenuhinya karena di dalamnya terkait dengan faktor pengalaman yang mana merupakan fungsi waktu.

Sementara itu definisi kedua terasa lebih manusiawi. Namun juga tidak terlalu mudah mewujudkannya. Semua karakter lulusan seperti berupa seorang pembelajar cepat, selalu ingin tahu hal baru, memiliki kerangka pikir metodologis dan rasional serta logika dasar yang benar, memiliki etika yang baik, pekerja keras dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, hanya akan lahir dari institusi pendidikan yang berkualitas dan bermutu.

Tantangan bagi dua buah institusi
Institusi pendidikan yang berkualitas tidak bisa lahir sendirian, apalagi secara instant. Hanya bisa hidup dalam sistim yang saling sinergis, minimal antara pihak “penghasil lulusan” dan pihak “pemakai lulusan” (dunia industri). Bahkan kita sangat menyadari bahwa dalam kenyataanya sangatlah banyak pihak yang harus terlibat dalam pembentukan SDM ini.

Dari perspektif ini, diperlukan suatu pendekatan yang hakekatnya sanggup menawarkan suatu “win-win solution” bagi kedua belah pihak. Artinya potret “lulusan siap pakai” bukanlah hanya menjadi hajat kampus atau pihak industri saja, tapi merupakan hajat bersama. Pihak industri berkepentingan untuk bisa secepatnya “memakai” para alumni dengan “cost” sekecil mungkin. Di pihak lain, kontribusi kalangan industri ini, serasa makin memperingan “beban” perguruan tinggi dalam proses “penggodogan” SDM. Suatu pendekatan yang bebas dari rasa saling “mencari untung”.

Dalam konteks seperti ini, akhirnya pihak industri akan menjadi bagian dari “proses produksi” SDM tersebut. Bukanlah sebagai pihak yang hanya menunggu hasil jadinya, tapi ikut terlibat di dalamnya sebagai partner. Harus menjadi partner yang sesungguhnya, yang ditantang kontribusi nyatanya dalam proses penyiapan SDM yang betul-betul handal. (@rwp).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: