RUDI WALUJO PRASTIANTO

“Menuangkan isi kepala”

Ka.Lab. kalah gengsi dengan Dekan ?

Posted by rudiwp on November 16, 2006

Terdengar cukup menggembirakan bila kinerja laboratorium di Perguruan Tinggi (PT) mulai diwacanakan, setidaknya oleh para calon rektor (carek) ITS dalam paparan Visi dan Misi mereka di hadapan senat guru besar ITS (Jawa Pos, 16 Nopember 2006). Momentum yang sangat baik bagi sebuah pencanangan gerakan terpadu dalam peningkatan mutu yang lebih berkesinambungan.

Lemahnya kinerja laboratorium PT selama ini, khususnya bagi PTN, setidaknya dapat dirasakan dari dua hal yaitu minimnya output saintifik dan lemahnya sentuhan manajemen operasionalnya. Jumlah karya ilmiah seperti paper Seminar, Jurnal, Simposium, dll. ataupun produk inovasi peralatan yang dihasilkan para awak laboratorium (dosen dan mahasiswa) per tahun misalnya, adalah contoh indikator produk saintifik yang menyimbulkan keberdayaan sebuah laboratorium. Sementara kelancaran cash flow operasional merupakan salah satu indikator mutu manajemennya.

Bagi sebuah unit pengelola laboratorium seperti sebuah jurusan/departemen di suatu PTN misalnya, keberadaan sebuah laboratorium bisa jadi malah akan menjadi beban, apalagi untuk sebuah laboratorium yang membutuhkan biaya pemeliharaan yang besar setiap bulannya. Karena pada umumnya tidak selalu diikuti dengan tersedianya anggaran rutin pemeliharaan yang memadai. Situasi ini tentu akan makin terasa bila kita tarik ke dalam konteks sebuah PT.BHMN.

Untuk mewujudkan fungsi utamanya sebagai suatu wadah pengejawantahan ide-ide kreatif menjadi produk-produk saintifik yang bernilai tambah tinggi bagi masyarakat luas, sebuah laboratorium haruslah dikelola secara terpadu dan professional. Beberapa hal mendasar yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh dan berkelanjutan adalah meliputi :

Pertama, reorientasi cara pandang terhadap eksistensi laboratorium. Hal ini menjadi faktor pertama yang sangat penting, karena ideologi inilah yang nantinya akan mendekte bentuk upaya-upaya di tingkat operasionalnya. Keberadaan laboratorium yang “sehat” harus dipandang sebagai keharusan dengan segala fungsi strategis maupun resikonya. Hanya dengan laboratorium yang baik dan produktif, akan lahir civitas akademika yang makin maju dan berwawasan luas beserta inovasi-inovasi unggulannya. Daya saing komparatif tidak akan lahir dari sebuah laboratorium yang mandul. Bahkan sudah harus mulai ditanamkan suatu pemikiran bahwa kedudukan seorang Kepala Laboratorium (KaLab) tidaklah kalah strategis dan “bergengsi” dibanding Ketua Jurusan atau Dekan, misalnya. Seorang KaLab dan lab.nya adalah ujung tombak bagi berkembangnya budaya ilmiah di kampus. Dan juga, pola pikir yang mengatakan bahwa laboratorium malah menambah beban hanya karena kebuntuan wawasan kita, harus segera dibuang jauh-jauh.

Kedua, pembenahan manajemen internal. Cara pandang ideal saja tidaklah cukup jika tidak diikuti dengan langkah-langkah operasional yang baik dan tepat. Langkah operasional pertama adalah pembenahan kondisi internal laboratorium beserta hubungannya secara struktural dengan unit lainnya dalam sebuah PT. Pembenahan faktor-faktor internal minimal harus mencakup hal-hal berikut: Pengelolaan peralatan, sarana dan lingkungan; Penyusunan Panduan Mutu, Prosedur, Instruksi Kerja; Penerapan sistem mutu laboratorium berdasarkan standart baku yang berlaku; Audit Internal, pengkajian ulang sistem mutu dan tindakan perbaikan; Upaya mendapatkan Akreditasi Laboratorium Nasional atau Internasional. Semuanya ini ditujukan untuk membentuk laboratorium sebagai sebuah wadah yang mandiri dan profesional yang mendapat pengakuan nasional maupun internasional.

Masih dalam pembenahan internal, yaitu perlunya mengkaji ulang hubungan struktural sebuah laboratorium dengan unit kerja yang menaunginya. Hal ini semata-mata untuk mencari format hubungan baru yang lebih efektif yang sangat diperlukan dalam proses operasional laboratorium. Kalau perlu dengan memotong birokrasi yang selama ini terlalu panjang dan berbelit. Harus didudukkan kembali misalnya, bagaimana hubungan sistim keuangan lab. dengan Jurusan atau Fakultas induknya. Begitu pula bagaimana kewenangan seorang kepala Lab. dalam menjalin hubungan dengan pihak luar sebagai mitra kerjanya. Tujuannya tidak lain agar terbentuk iklim hubungan yang sehat dan sinergis antara laboratorium dan unit-unit kerja lainnya. Semua ini sebetulnya hanya masalah praktis yang tidaklah sulit untuk dilakukan, cuman biasanya justru menjadi blunder yang memperburuk keadaan.

Yang tidak kalah penting adalah proses pemilihan dan masa jabatan KaLab. Kewenangan ini biasanya masih di bawah Kajur atau Dekan. Yang perlu digarisbawahi, pemilihan seorang KaLab harus dengan jalan yang lebih profesional, artinya pertimbangan Kepakaran dan aspek Kepemimpinan harus lebih dikedepankan. Seorang KaLab harus benar-benar mumpuni di bidangnya dan diamanati untuk mengkader para staff dalam lab.nya demi kesinambungan hidup lab. selanjutnya. Faktor kesinambungan ini menjadi sangat penting karena membangun sebuah lab. hingga mencapai kredibilitas tinggi bukanlah pekerjaan satu atau dua tahun, tapi sebuah upaya bertahap yang membutuhkan konsistensi. Terkait dengan itu maka masa jabatannya juga harus dipertimbangkan secara serius, tidak terlalu cepat untuk diganti. Kalaupun harus diganti, haruslah oleh orang yang menjadi kader lab. tersebut. Hal ini karena menyangkut keberlanjutan professional yang menjadi strategi untuk kemudahan para mitra kerja laboratorium.

Ketiga, jembatan strategis akademisi dan industri. Bagi sebuah PT atau Jurusan yang sudah maju, laboratory-based activities sudah menjadi keniscayaan. Laboratorium sudah benar-benar menjadi garda terdepan bagi kemajuan akademis dan penelitian, yang mana tumbuh-kembang keduanya menjadi saling menguatkan. Situasi seperti ini akan sulit tercapai kalau hanya mengandalkan dana DIP atau research grant dari pemerintah karena rasio antara peminat dan alokasi dana yang tersedia sudah sangat tidak sebanding. Maka “cost” yang harus disediakan adalah adanya hubungan yang mesra antara lab. dengan pihak industri. Para aktivis lab. (dosen dan mahasiwa) dan pihak industri akan senantiasa berproses dalam menyemai benih-benih IPTEK melalui “proses pembelajaran” timbal-balik, yang tentu saja saling menguntungan keduanya.

Sebagai penutup, tidaklah mengherankan bila seringkali para staff pengajar yang menjadi penggiat Lab. yang kredibel di sebuah PT (baik luar negeri maupun dalam negeri), pada saat harus mencantumkan afiliasi mereka, maka pertama mereka akan menyebutkan identitas laboratoriumnya baru diikuti oleh nama Jurusan atau PT.nya. Ini bukan sebuah arogansi, tapi harus dipahami sebagai suatu wujud apresiasi diri dan penghargaan atas prestasi mereka sendiri bersama laboratoriumnya.

Semoga para aktivis laboratorium kita bisa segera mewujudkan kondisi ini. Semaraknya aktivitas laboratorium tidak saja berkontribusi pada peningkatan produk saintifik akademis bagi kampusnya, tapi juga sekaligus menuai income flow bagi kesejahteraan para awaknya. Tentu saja isu kesejahteraan ini juga tak kalah pentingnya bagi sebuah PTN yang akan segera menuju era PT.BHMN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: